Suatu Pertanyaan kapan Allah SWT menjadi Tuhan?..

06 August 2012



Al kisah diceritakan dalam sebuah Pondok pesantren Salaf yang di asuh oleh kyai salaf pula, dipagi itu suasana sejuk terlihat, embunpun terlihat disebuah suasana pondok, tiba-tiba bel berbunyi menunjukan pengajian akan segera di mulai. maka segeralah para santriawati berangkat dan langsung duduk di kelas dengan tenang, sambil membuka kitab kajiannya yaitu kitab kuning yang akan mereka kaji. 5 menit setelah santriawati berkumpul, pak kyai dengan mengucapkan salam, tentu saja langsung di jawab salam balik oleh para santriawati. maka pengajian kitab kuning akan segera dimulai.

Namun di pagi itu terlihat agak aneh, pak kyai tidak memberikan pertanyaan tidak sebagaimana mestinya, namun pak kyai memberikan pertanyaan yang agak menyimpang dengan materi pengajiannya.Tentu saja para santriawati  agak bingung?...

Karena pak Kyai memberikan pertanyaan :
KAPAN ALLAH MENJADI TUHAN?..

Adapun para santriawati menundukan kepala, sambil berfikir dan merenung, mereka bertanya dalam hati, Ada apa Kyai bertanya seperti itu?..bukankah sejak dulu Tuhan kita adalah Allah SWT dalam hati menjawab.
Coba jawab! sejak kapan Allah SWT jadi Tuhan? sekali lagi pak Kyai bertanya!

Diantara santriawati ada yang ingin mencoba menjawab " Allah SWT menjadi Tuhan Semesta Alam sejak sebelum Malaikat, Jin dan Alam serta manusia di ciptakan, jawab santriawati pertama, santriawati itu mengambil dalil " Huwal awalu wal akhiru wadhohiru wal bathinu" anda bagus jawab sang Kyai! mungkin ada jawaban yang lain? tanya pak kyai?..

Santriawati kedua mencoba untuk menjawabnya " Allah SWT menjadi tuhan, saat orang bersangkutan memeluk islam"  seseorang yang bukan non muslim, maka pada suatu saat itu tuhan mereka bukanlah Allah SWT ..jawab Sabntriawati kedua yang kebetulan berasal dari seoarang Mualaf, anda bagus! jawab sang Kyai. mungkin ada jawaban yang lain lagi?..

Santriawati ketigapun mencoba untuk menjawab pertanyaan pak Kyai " Allah SWT menjadi tuhan kapan saja Terjadi!!!..apa alasanmu menjawab seperti itu?..tanya pak Kyai...Nyuwun sewu pak Kyai..Mengapa saya menjawab seperti itu?..karena di saat seorang hamba tidak mentuhankan Allah SWT, maka pada saat itu yang jadi tuhan bukanlah Allah SWT.

Santriawati tersebut menjelaskan bahwa seorang yang mendengarkan adzan maghrib tidak segera memenuhi panggilan Allah SWT tetapi asyik berbelanja di mall sampai waktu maghrib habis, pada saat itu bisakah mereka masih mentuhankan Allah SWT?...

Bukankah pada saat itu dia secara tidak langsung mentuhankan Harta benda?..

Manusia yang hidupnya selalu memegang botol minuman keras, pada saat itu masihkan mereka mentuhankan Allah SWT?...

Seseorang yang melakukan Pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, masihkan mentuhankan Allah SWT, bukankah secara tidak langsung mentuhankan nafsu biologisnya?..

Seseorang orang yang asyik makan siang di bulan Ramadhan padahal dia mampu untuk melaksakan puasa, bukankah mereka secara tidak langsung mentuhankan Perutnya sendiri?.. jawab sang Santriawati penuh optimis..menagmbil dalil Afaroayta manit tahodza ilaahahu hawaahu..(maka apakah kalian mengetahui siapa yang menjadikan hawa nafsumu sebagai tuhannya? )

Mendengar jawaban para santriawati tersebut, pak kyai senang dan bangga, karena ternyata mereka telah berani menjawab dengan argumentasi benar"jawaban santri pertama cukup bagus karena yang di tinjau segi theologi, kata Pak Kyai, sedang jawaban santriawati kedua juga baik, karena ditinjau segi logika, sedang yang ketigapun baik karena yang di tinjau dari segi haqeqat" tutur penjelasan pak kyai kepada santriawati dengan Bangganya...

Anak-anaku karena itu marilah kita berusaha untuk memadukan ketiga jawaban tersebut, dengan cara meningkatkan keyaqinan kepada Allah SWT menjadi tuhan, sejak sebelum sesuatu ada, sekaligus kita senantiasa menTuhankan Allah SWT, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Karena berapa banyak orang yang mengakui Tuhan mereka A llah SWT, tetapi dalam prakteknya justru mentuhankan harta, wanita dan tahta.

Selama kita mentuhankan Allah SWT,  maka Allah SWT akan selalu menganggap kita hambanya, dengan demikian kita selalu mendapatkan pertolongan darinya.

Ingat..Allah SWT bukan gila Hormat! yang selalu meminta hambanya menyembahnya, Ingat anakku ..! Allah SWT, tidak butuh di tuhankan seluruh hambanya mentuhankan. Allah SWT tidak akan turun Pangkat dan kemuliannya. Allah SWT tidak akan turun Jabatannya satu persenpun! sebagaimana Firmannya : Sesungguhnya Allah SWT maha kaya dari seluruh alam" semua ibadah dan pengagungan kembali kepada yang bersangkutan, begitulah tutur pak Kyai dengan nada mengingatkan.

Mudah-mudahan bermanfaat..Amiin.

ShareThis